Kamis, 15 Juli 2010

Sekilas Tentang Ogan Ilir


Pertama kali setelah pemilihan tak terduga itu (baca: penunjukkan Korwil), saya langsung memusatkan pandangan saya ke whiteboard yang kali ini berperan sebagai screen di kontrakan terpopuler seantero Otista dan sekitarnya, “Jangan Bersedih” (Laa Tahzan,-penj). Alkisah, saat itu para korwil kelihatan khusyuk menikmati wejangan awal (walaupun sebagian fikiran ini entah sedang berpetualang kemana…) Sang Ketua mengenai gaweannya nanti sampai hari-H pada umumnya, Survei Pendahuluan pada khususnya. Dengan agresif nan lincah, bola mata ini bergerak-gerak menjelajahi peta hasil scan berefek blur yang sedang tervisualisasi seolah tak ingin ada secenti pun terlewat. Maklum, pengalaman & pelajaran yang akan diperoleh, tergantung pada keputusan rapat itu. Keputusan Kabupaten/Kota yang menjadi tanggungjawabnya kelak. “Ewis di Ogan Ilir ya…” itulah ucapan yang keluar dari lisan Sang Ketua dan bersambut dengan anggukan agak ragu serta suara lirih tapi mantap: “Insya Allah…”.

Amanah ini memang membuat empunya berusaha mengerahkan segenap daya upaya menunaikannya karena bakal dipertanggungjawabkan di evaluasi atau LPJ dalam jangka pendek serta di yaumil hisab pada jangka panjangnya. Aktivitas logis setelah peristiwa itu ialah mencari info sebanyak dan selengkap mungkin tentang Ogan Ilir. Mulai dari peta detail sampe ke batas Desa (google earth, ARC GIS), kondisi geografis, hingga kebudayaan, ciri khas, dan kroni-kroninya. Sebenarnya sambil menyelam minum air karena 'sejalan' dengan amanah strukltural PKL 49, yaitu sebagai sub kuadrat seksi Alokasi Petugas (Sub-subsie Alpet di bawah subsie Humas di bawah Seksi Umum). Seksi umum memang menghandle urusan-urusan nonteknis, termasuk harus siap jadi orang lapangan pas hari-H, termasuk juga menjadi seorang korwil.

Survei Pendahuluan menurunkan pasukan khusus yang 5 orang diantaranya dari Seksi Umum yang memang menjadi pemain utama dalam ‘pertandingan’ tersebut. Dengan total waktu kompetisi yang hanya 3 hari, kami berusaha untuk memperoleh gambaran umum kondisi lapangan (juga mencakup peta WA & WB, akses transportasi, sinyal, adat istiadat, dkk.), koordinasi dengan BPS Provinsi dan BPS Kabupaten terpilih (plus Para KSK), uji coba kuesioner, serta info-info pendukung lainnya. Kami dibagi menjadi: 2 orang untuk masing-masing kabupaten kecuali Palembang (3 orang). Saya berpartner dengan Irfan Azam Fikri waktu itu (ke depannya beliau memang diproyeksikan menjadi salah satu Kortim di wilayah terekstrim disana). Hasil dari SP ini salah satunya digunakan sebagai bahan pertimbangan alokasi petugas (job saya) dalam menempatkan keluarga besar angkatan 49 sesesuai mungkin.

Dua peran sekaligus yang saya mainkan saat itu (sebagai Alpet & Korwil OI) menuntut totalitas dalam bertugas. Target pribadi saat itu bukan hanya untuk SP, melainkan juga untuk advance dan waktu pelaksanaan. Intinya, cari info, info, dan info... terkait Ogan Ilir. Hubungan dengan Kepala, Kasie, staff-staff BPS Kabupaten, serta Bapak-bapak KSK (ups, salah perkiraan, ternyata KSKnya banyak yang perempuan) kudu dijalin dengan baik, terlebih pada kesan pertama. Adaptasi kilat mau tidak mau dilakukan mengingat hasil SP ini cukup vital perannya untuk kesuksesan PKL kita. Hari pertama disana masih upaya pengenalan awal maksud & rencana kami selama SP kepada pimpinan BPS OI. Namun, agak bertepuk sebelah tangan karena pihak pimpinan BPS OI tidak mau mengambil resiko. Mereka merekomendasikan (lebih tepatnya ‘mewajibkan’) untuk mengganti 1 BS terpilih dari Desa Tanjung Miring ke Desa Tanjung Bulan. Apa boleh buat, dari info yang disuguhkan KSK terkait, juga mendukung penuh rekomendasi tersebut. Kami terima sementara rekomendasi itu (nanti dibahas pada rapat hasil SP) dengan masih terbesit keinginan untuk mengunjungi daerah yang katanya supersulit tersebut.

Sekitar sepertiga (5 dari 16 Kecamatan yang ada) wilayah kami kunjungi. Saya dan 2 KSK menelusuri anak Sungai Ogan dengan berkendaraan ‘ketek’ (perahu motor,-penj) menuju Kecamatan Pemulutan Barat dan sekitarnya. Sempat ada tragedi kehabisan bahan bakar yang menyebabkan kami bertiga mendayung pakai alat seadanya ke tempat pengisian bahan bakar sekitar se perempat kilo. Pada saat yang sama di tempat lain, Irfan (diantar seorang KSK) yang berekspedisi ke Kecamatan Muara Kuang dan sekitarnya yang berkali-kali beristighfar akibat aksi motorcross yang diperlihatkan oleh KSK wilayah itu yang sepertinya sudah hafal dimana lubang, polisi tidur, tanah becek dan aspal mulus, menunjukkan kepiawaiannya dalm menaklukan daerah kekuasaannya. Hari ketiga dengan terpaksa kami meninggalkan OI sementara (pas advance & pelaksanaan insya Allah balik lagi) walaupun sebenarnya merasa masih belum cukup banyak info & pengalaman yang didapat akibat terbatasnya waktu.

Dua pekan setelah SP, alokasi petugas sudah selesai menjalankan tugasnya dan 10 tim Ogan Ilir pun sudah terbentuk (kemudian disebut OI Lovers), kali ini, saya dikawal oleh Adek Budiman untuk berangkat sepekan lebih dulu sebagai tim advance. Inilah tim persiapan akhir PKL 49 yang tugasnya antara lain fiksasi penginapan, mengatur teknis keberangkatan & kepulangan dari dan ke Palembang, mengenal lapangan lebih jauh, pendekatan ke Para KSK, juga yang tidak kalah penting ialah berkoordinasi dengan OI Lovers yang ada di Jakarta, dll (kecuali tim advance Palembang yang dapat tugas khusus seperti cek hotel, de es be).

Setibanya di BPS OI, kami punya target untuk berkeliling OI dan mengunjungi 7 penginapan serta menginap disana. Jadi, dalam rentang waktu sepekan, kami berupaya untuk tidak menginap di tempat yang sama dua hari berturut-turut agar bisa merasakan apa yang dirasakan OI Lovers nantinya. Namun, manusia hanya bisa berencana, Allah-lah yang menentukan. Ceritanya, pada hari kedua advance, saya ditemani dengan seorang KSK yang mengantar Irfan saat SP lalu. Jadi, sudah tidak kaget dengan aksi motorcrossnya. Kondisi cuaca terakhir menyebabkan banyak jalan bertransformasi menjadi sungai dangkal (mencapai seleher balita). Kami sudah tidak mempedulikan celana yang berkali-kali terkena cipratan air akibat mental pembalap KSK yang tak gentar menerobos 'sungai dangkal' tersebut meskipun resiko mesin mati kemasukan air cukup besar. Akhirnya, kedalaman sepaha orang dewasa-lah yang membuat rekor pembalapnya terhenti. Motor perkasa itu pun dituntun oleh tuannya.

Setibanya di dekat rumah Kades Kuang Anyar, tempat salah satu tim menginap nanti, kami kembali dikejutkan (sebenarnya biasa aja, ga terkejut lagi) oleh akses jalan yang banjir hampir sepinggang orang dewasa. Inilah awal peristiwa unik itu. Saya & Kak Ari (nama KSK tsb) memutuskan memarkir motor di tepi jalan, lalu menyingsingkan celana menuju rumah Kades yang berjarak sekitar 100 meter dari tempat diparkirnya motor. Tidak lama berjalan, ada seorang warga setempat dengan sampannya menawarkan kami untuk menumpang. Kami pun tidak jaim dan langsung menerima tawaran tersebut dengan sukacita. Kami naik dari tempat yang memang sudah banjir sepaha. Kak Ari yang badannya cukup besar naik lebih dulu, dibantu pemilik sampan yang stay cool di sampannya hingga sedikit oleng dan masuklah air cukup banyak ke dalam sampan, langsung diikuti saya yang agak ragu naik sehingga bertambah olenglah sampan tersebut hingga sampan yang kami bertiga naiki perlahan tenggelam kebanyakan air yang masuk. Awalnya kami tidak kuat menahan gelak tawa, tapi lama kelamaan terdiam karena menyadari ada yang aneh... Astaghfirullah, Handphoneku! Kami pun mengangkat HP masing-masing sambil meratapi air yang mengucur darisana. Saya pun pucat membayangkan bagaimana komunikasi ke depannya (secara no. HP penting tersimpan di memori HP). Tapi alhamdulillah, Camdig & flashdisk berisi data-data penting selamat. Kejadian ini membuat kami lost contact dengan Adek & sempat terdampar sambil berharap HP berfungsi kembali.

Ternyata, kesabaran saya diuji tidak hanya sampai disitu saja, kembali keesokan harinya sewaktu menuju 'bedeng'/ kost-kostan calon tempat penginapan kami yang lain di Indralaya, Saya mengendarai motor dinas membututi KSK & Adek yang boncengan di depan. Setengah perjalanan, tiba-tiba terjadilah peristiwa itu. Peristiwa yang didahului oleh terlalu memaksakan diri (diporsir & tersesat sampai jam 9 malam karena lost contact kemarin) & fikiran bercabang (bahkan beranting) di tempat lain akibat tidak bisa melanjutkan komunikasi penting & urgent dengan berbagai pihak (termasuk selain kepentingan PKL ) dalam waktu dekat. Peristiwa yang membuat saya sempat setengah sadar mengendarai motor hingga sampai bedeng (subhanallah, agak sulit dipercaya karena setelah jatuh, segalanya gelap, langsung bangkit dibantu 2 orang bapak-bapak, lalu lanjut jalan ke depan walaupun motor KSK & Adek sudah menghilang dari jarak pandang maksimal, sementara tidak tahu jalan & arah yang dituju, kemudian … glup! lupa). Yang diingat, tiba-tiba sudah duduk dibangku tempat kediaman KSK tadi sambil diobati oleh Adek pada bagian tubuh saya yang luka, lalu melihat perubahan wajah, dan anggota badan lainnya dengan cukup pasrah. Sesudah peristiwa itu, sudah bisa ditebak kalau kami tidak bisa memenuhi target ideal yang telah ditetapkan sebelumnya. Untungnya motor dinas korban ketidakhati-hatian saya 'hanya luka' di lampu depan sebelah kanan dihiasi sedikit goresan yang kurang sedap dipandang mata. Praktis, seharian itu saya terbaring tak berdaya sambil memperbanyak do'a agar diberikan kekuatan agar esoknya bisa menjalankan schedule sebagaimanamestinya. Tugas hari itu pun sementara dihandle Adek (trimakasih yo, Dek...).

Hari pelaksanaan pun datang. Sebenarnya, ada perasaan tidak enak ke OI Lovers karena kekurangmaksimalan kinerja kami saat advance (Mohon maaf ya teman...), tapi dengan keterbatasan kondisi, boleh dibilang itu sudah cukup maksimal. Akibatnya, ada beberapa tim yang komplain terkait penginapan yang diluar dugaan karena belum sempat dicek. Waktu 14 hari ke depan & peristiwa pada advance 7 hari kemarin (saya lebih suka menyebutnya dengan 'peristiwa' daripada 'musibah') itu tidak mengubah tekad saya untuk terus moving & menginap tidak di tempat yang sama dua hari berturut-turut. Terlebih lagi ada seorang OI Lovers yang sebelum berangkat ke Sumsel, beliau juga mengalami kejadian yang hampir sama plus tongkat, sebut saja Yeni. Saya pun memotivasi diri: Ewis, jangan manja, kamu kan laki-laki & cuma luka luar, lihat tuh Yeni, dia perempuan dan luka dalam juga tapi tep tegar !!!

Pada awal-awal pelaksanaan, memang saya merasa kesulitan dalam menghadapi keterbatasan ini. Di satu sisi, schedule mengharuskan tubuh ini untuk aktif bolak-balik ke BPS OI (mungkin sama dengan Korwil lainnya) tentunya dengan pakaian bebas rapi. Di sisi lain, terkadang luka di lutut ini menuntut haknya untuk menghirup udara segar, tidak diperban agar bisa cepat kering. Seiring berjalannya waktu, saya mulai terbiasa menjalaninya. Sepekan di awal, saya masih mengandalkan mobil angkutan umum, bentor, dan ojek untuk bisa lintas kecamatan se-Kabupaten OI. Sempat terdengar berita kecelakaan motor yang dialami seorang sahabat saya dari belahan Kabupaten lain, sebut saja Maftuh (bekas luka kita sekarang mirip ya... he3...). Berbagai peristiwa yang terjadi mengingatkan dan menguatkan bahwa apa yang saya alami, mungkin belum seberapa dengan apa yang teman-teman seperjuangan saya rasakan di Kabupaten lain yang konon katanya jauh lebih sulit medannya. Sebut saja Kabupaten OKUS. Kejadian penting lainnya yang terjadi diawal dan cukup mengguncang ialah instruksi BPH PKL 49 yang bersumber dari salah satu Dosen Pengawas Lapangan (Bpk. Ahmad Prasetyo) yang intinya penekanan SOP pada proses listing. Cukup banyak yang harus mengulang listing di OI. “Tak apalah teman, daripada mengulang PKL...”. Sepekan pertama ini sudah cukup membuat saya hafal seluk beluk jalan (yang banjir, suka ada razia, penuh lubang, tanah jeblok, sungai, warnet, tempat fotokopi, tempat ngeprint, Minimarket, tempat makan, he he...de es te.) yang ada di OI.

Sepekan berikutnya barulah saya berani menyewa motor seorang Bapak tukang ojek langganan agar lebih efektif & efisien dalam patroli rutin ke Tempat Kejadian Perkara (mendatangi tim yang memang perlu didatangi), atau ke Tempat Persinggahan Akhir yang memang sudah dijadwalkan untuk menginap disana. Masalah – masalah yang terjadi kebanyakan perulangan dari pekan pertama, antara lain: ketidaksesuaian peta, batasan kondef, administrasi & keuangan, koordinasi dengan KSK, moving ke Penginapan satu ke penginapan lain (untuk sebagian tim), nonresponse, dkk. Saya mulai bisa menikmati tugas ini. Tugas yang insya Allah merupakan gambaran mini dunia kerja kita di BPS kelak.

Hari terakhir pelaksanaan, kami berkumpul di Posko Induk Tanjung Rajo. Moment terakhir, kami puaskan dengan makan-makan dan saling berbagi cerita pengalaman di daerahnya masing-masing (kayaknya sih belum puas makan & ceritanya...). Ada yang seru, lucu, haru, tabu, malu-malu, dan lain-lainnyu (he2)... foto-foto pun menjadi rangkaian acara wajib yang ga bisa ditinggalkan. Setelah itu, kami hijrah ke BPS Kab. OI untuk izin pamit sekaligus menyerahkan plakat PKL ke Kepala BPS OI plus foto kenang-kenangan dengan mereka (terimakasih atas bantuan & kerjasamanya serta mohon maaf atas salah & khilaf selama disana ya Ibu/Bapak Kepala, Kasie, Staff, Karyawan, KSK & pihak-pihak lain yang tidak bisa disebut satu persatu). PKL 49 bagiku memang event yang penuh warna, rasa, hikmah, kesan, kejutan, pelajaran, & pengalaman yang 'kan tetap terkenang.

Untuk rekan -rekan OI Lovers, hanya untaian kata-kata penutup di bawah ini yang bisa saya berikan kepada kalian. Maklum, saya bukanlah pujangga yang ahli merangkai kata, bukan juga penulis puisi yang cerdik menggubah diksi...



Selamat tinggal OI”


Dari Pemulutan sampai Muara Kuang...
Dari Tanjung Batu hingga Kandis...
'laut','Hutan', banjir dan ladang...
bentor, 'ketek', duku nan manis...

Terukir indah dalam prasasti kenangan...

berbentuk kesan...

bertinta pengalaman...

Terpahat kuat...

Terpatok elok...

Terpatri rapi...

Kokoh berdiri... di relung hati... dari dasar sanubari...

Selamat tinggal OI...

(EwiStis_puitis: mode on)






Midpoint, 3 Sya'ban 1431 H

Tidak ada komentar:

Posting Komentar